Fenomena Equinox di Indonesia

Di lini masa sosmed beberapa hari terakhir ini ramai dipebincangkan adanya kenaikan suhu yang drastis karena adanya fenomena Equinox. Menanggapai hal ini BMKG sudah menyatakan kalau masyarakat tak perlu khawatir akan dampak equinox.

Istilah equinox berasal dari bahasa Latin, aequus (setara) dan nox (malam), yang dikenal sejak abad ke-14.

Equinox merupakan fenomena astronomi rutin, biasanya berlangsung pada periode 19-21 Maret dan 22-23 September setiap tahun. Saat equinox berlangsung, belahan bumi utara dan selatan mendapat paparan sinar matahari lebih merata.


Ilustrasi Equinox : Matahari melintas tegak lurus dengan garis ekuator (lintang 0 derajat), hampir tak ada bayangan obyek yang muncul pada puncak siang hari.

Saat equinox terjadi diIndonesia cuaca masih dalam kondisi basah dan lembap, serta ada potensi hujan. Sehingga masyrakat tidak perlu berlebihan menanggapi adanya suhu yang sangat tinggi. Temperatur harian Indonesia masih dalam kondisi normal, belum pernah mencapai 40 derajat Celsius. Suhu harian maksimal yang dipantau BMKG berkisar 32-36 derajat Celsius.

Menurut ahli astronomi Tri L. Astraatmadja Fenomena equinox berkorelasi dengan jalur lintasan matahari. Ada kesan semu bahwa matahari mengitari planet ini, padahal tidak. Gerak semu ini ditandai dengan perubahan posisi matahari setiap hari.

Perputaran bumi pada porosnya pun membuat penampakan benda langit selalu berubah, terlihat terbit di timur dan tenggelam di barat. Namun penampakan posisi bintang bintang relatif tak berubah.

Hal ini disebabkan letak bintang-bintang itu lebih jauh dibanding jarak bumi ke matahari. Letak bintang-bintang tersebut bisa dijadikan patokan terhadap posisi dan pergerakan lintasan matahari.

Pergerakan matahari di langit sepanjang tahun mengikuti garis ekliptika, jalur imajiner jika dilihat dari bumi. Dua kali dalam setahun, garis ekliptika ini berpotongan dengan ekuator langit yang membagi bumi menjadi belahan utara dan selatan. Perpotongan garis ekliptika dan ekuator langit ini disebut titik equinox.

Fenomena ini dipengaruhi poros bumi yang sebenarnya tidak tegak lurus. Sumbu bumi menyimpang 23,5 derajat berbanding lintasan or bitnya terhadap mata hari. Sehingga ketika bumi mengitari matahari, porsi paparan sinar di bagian utara dan selatan tak rata karena posisinya miring. Namun, saat ter jadi equinox, durasi siang dan malam menjadi sama, masing-masing 12 jam, yang dikenal sebagai equilux.

Pada masa equinox, matahari biasanya akan terbit mulai pukul 6 pagi dan terbenam pukul 6 sore. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh bumi, kecuali di kawasan kutub. Namun periode durasi waktu tersebut tidak dialami serentak di seluruh bumi. Ukuran matahari yang jauh lebih besar dari bumi, penerapan zona waktu, dan kecepatan orbit mempengaruhi durasi equinox yang dirasakan manusia di tempat berbeda di bumi.

0 comments:

Post a Comment